You need to enable javaScript to run this app.

Tantangan Gurusiana oleh Casminih, M.Pd (Hari ke-11 s.d ke-20)

  • Senin, 10 Februari 2020
  • Admin Web
Tantangan Gurusiana oleh Casminih, M.Pd (Hari ke-11 s.d ke-20)

Paduan Suara Laksana Kehidupan (Tantangan Hari ke-11#Tantangan Gurusiana)

10 Feb @Opini

"Kalau tidak ada Si A, apa jadinya ya kelangsungan lembaga kita ini". "Si B, kok hobinya berbeda dengan saya. Sepertinya itu hobi yang aneh". "Tugas luar itu, delegasikan ke Si C ya. Dia sangat dekat dengan saya jadi saya paham betul sifatnya". Pernahkah kita mendengar kalimat-kalimat seperti itu? Sangat disayangkan bila pendapat seperti itu bergulir di sekitar kita. Pemikiran seperti itulah yang memicu dan memacu berkembangnya ketidakharmonisan dalam komunitas.

Keharmonisan sangat diperlukan kehadirannya dalam kehidupan. Ragam permasalahan sebagai angin yang selalu bertiup kencang, siap memporak-porandakan kehidupan manusia. Apabila kita lengah dan tidak punya kiat dan cara mengatasi permasalahan tersebut, maka bersiaplah kehidupan Anda akan cedera. Keharmonisan antarunsur seharusnya dijadikan kiat yang dibutuhkan untuk menguatkan pondasi menuju kehidupan yang lebih baik.

Memberikan apresiasi dan menganggap penting kehadiran semua unsur sehingga menghasilkan sesuatu yang bisa menghipnotis adalah hal yang dianut oleh tim Paduan Suara. Pemusik, dirigen, penyanyi yang sudah diberi tugas dengan jenis suara, tidak ada yang lebih penting. Seluruh unsur itu merupakan sesuatu yang 'penting' menuju hasil suara yang berkualitas. Maka dari itu, harmonisasi hendaknya yang diutamakan untuk memperoleh hasil yang diharapkan.

Menjalin kehidupan yang lebih baik, cobalah berkiblat kepada cara kerja paduan suara. Tidak ada yang merasa lebih penting, tidak ada penilaian tidak penting terhadap unsur lain, semua unsur sangat dibutuhkan kehadirannya. Apabila muncul unsur yang menonjolkan diri, maka akan muncul ketidakharmonisan. Bila hal itu terjadi, jangan pernah akan menghasilkan lagu yang memesona pendengar.

Gambar di atas adalah tim Paduan Suara SMAN 1 Sukaresmi Kabupaten Cianjur. Tampilan mereka terlihat sama, padahal perbedaan tugas yang diarahkan menuju harmonisasi adalah hal yang sangat mereka jaga. Saling menghargai keberfungsian masing-masing selalu dijunjung tinggi. Dari merekalah penulis menghasilkan inspirasi akan kehidupan yang harmonis.

Jadi, menuju kepada kehidupan yang harmonis, kita bisa belajar dari paduan suara. Bahu membahu menuju hasil yang diharapkan menjadi titik bidik. Mengganggap berharga semua unsur pembangun selalu diterapkan dalam proses kerja.

=======================================================

Tertawalah Sebelum Dilarang (Tantangan Hari Ke-12#Tantangan Gurusiana)

11 Feb @Kolom

Seluruh manusia dihadapkan kepada aktivitas masing-masing. Aktivitas ini tentu saja mengarah kepada kepentingan kelangsungan hidup. Ragam profesi atau identitas yang melekat pada diri manusia adalah perihal yang mengarahkan kemana dan aktivitas apa yang dikerjakan oleh setiap manusia.

Tuntutan melakukan kegiatan yang sesuai dengan profesi atau identitas yang melekat, sudah bisa dipastikan akan menguras energi. Terkurasnya energi tentu saja akan mengakibatkan kelelahan dan kepenatan. Apabila kita tidak bisa mengatur dinamika yang bergejolak dalam jiwa, maka tekanan demi tekanan akan menggerogoti psikologis kita.

Seorang pegawai atau karyawan terikat dengan pekerjaannya. Para siswa terjadwal dengan pembelajaran dan tugas-tugas. Ibu rumah tangga berkewajiban menunaikan tugas rumah yang tak pernah ada kata 'selesai'. Pedagang berjibaku dengan barang dagangan dan pelanggan. Itu semua akan membangun kepenatan dan kelelahan yang semakin hari semakin menggunung.

Mari kita atasi penat yang bersarang dalam raga dengan tertawa. Enyahkan segala duka lara karena lelah kerap melanda. Usir jauh-jauh hal-hal yang membelenggu rasa suka cita. Ciptakan suasana bahagia karena kita berhak mereguknya. Jangan dibiarkan, lelah mengkristal dalam jiwa raga kita.

Cobalah keluar dari lingkaran tempat atau rutinitas yang menyebabkan Anda layu karena dehidrasi oleh hal yang harus Anda selesaikan. Bersama seseorang, kerabat, atau komunitas, akan lebih baik untuk kita merajut tawa. Komunikasi dengan angin, bertatapan dengan bunga-bunga, bersentuhan dengan sejuknya air telaga, akan bisa melepas gumpalan gulana.

Gambar di atas adalah komunitas putri anak-anak kelas XII Bahasa SMAN 1 Sukaresmi Kabupaten Cianjur, sedang menikmati tawa bersama wali kelasnya. Kebersamaan mereka juga didokumentasikan menjadi buku kenangan. Kebahagiaan yang terdokumentasi akan berguna menjadi pengingat di masa depan bahwa kita pernah melewati masa ceria itu.

Tertawalah sebelum dilarang. Tawa yang memburai dengan maksud sebagai pengobat dan pengusir duka harus terus kita tebarkan. Tawa yang mengakibatkan duka orang lain adalah tawa yang terlarang. Jadi, tertawalah untuk mengusir lelah yang mendera, tapi bukan tertawa untuk merangkai gulana orang-orang sekitar kita.

=======================================================

Filosofi Piala (Tantangan Hari Ke-13#Tantangan gurusiana)

12 Feb @Kolom

Siapa yang tak mengenal piala? Sosok elegan bertabur kata "hebat" itu, bisa kita lihat di beragam tempat. Piala sering kita jumpai di sekolah. Tak terkecuali di instansi lainnya. Tentu saja tak ada makna negatif yang melekat pada tubuh piala. Laksana malaikat, penilaian dan pandangan kita terhadap piala, murni positif tanpa cacat.

Bolehkah kita memiliki piala? Jawabannya tentu saja boleh, tetapi bukan hasil membeli dari toko piala. Lalu, bagaimana cara mendapatkan piala? Semua orang sudah tahu cara mendapatkannya. Hal yang harus dicamkan berkaitan dengan cara mendapatkan piala yaitu, niat dan keikhlasan dalam berbuat untuk memperoleh hasil terbaik.

Wujud piala yang dikirimkan oleh bola mata ke otak, memang berupa sebuah benda. Apabila kita mempunyai uang, tinggal tukarkan uang kita dengan piala yang kita mau. Apabila demikian, makna sebuah piala adalah uang. Itu berarti, hanya orang-orang yang punya uang untuk membeli piala yang berhak memiliki benda itu.

Lebih jauh kita menelisik, arti sebuah piala begitu dahsyat. Bayangkan saja, siswa yang memperoleh piala Olimpiade Sains Nasional, persiapan mereka mendapatkannya tidak cukup hitungan bulan. Tahunan adalah waktu yang harus dihabiskan untuk bisa memeluk piala OSN tersebut. Atlit angkat besi yang berlaga di PORDA juga mempersiapkannya tidak berbulan-buan tetapi bertahun-tahun. Piala yang diperoleh oleh sekolah sebagai sekolah sehat tingkat provinsi atau nasional, pasti menghabiskan waktu tahunan juga untuk memperolehnya.

Jadi, makna sebuah piala adalah bukan sebuah benda. Piala adalah motor yang mampu menggerakkan pilar kemampuan seseorang. Piala adalah motivasi yang mampu menyadarkan seseorang mengasah kualitas dirinya. Piala adalah kekuatan yang mampu menopang kelemahan yang dirasakan dalam jiwa. Piala adalah api yang mampu membakar kemalasan yang bersarang dalam jiwa raga.

Berdasarkan uraian tersebut, siapa pun berhak dan bisa mendapatkan piala. Lalu, bagaimana memperolehnya. Tanyakan kembali pada diri kita, maukah kita mendapatkan piala itu. Dalam diri piala, telah mengandung makna yang sama sekali tidak ada unsur negatif. Hanya makna positif yang bergelayut pada tubuhnya. Sangat baik bukan apabila kita ingin meraih sebuah piala dalam kehidupan kita ini? Mari kita raih sebuah piala.

=======================================================

Wisata Imaji (Tantangan Hari Ke-14#Tantangan Gurusiana)

13 Feb @Kolom

Pernahkah Anda mengikuti rombongan yang akan mendatangi kajian Mamah Dede yang ditayangkan salah satu stasiun televisi? Atau, Anda pernah menjadi peserta ziarah ke makam Wali Songo yang diselenggarakan oleh ketua majelis ta'lim di kampung Anda? Bila demikian halnya, masyarakat bahasa menyebutnya sebagai 'wisata religi'. Tentu saja ada hal yang ingin dikejar dari wisata religi tersebut. Menguatkan keimanan kita adalah salah satu yang menjadi titik bidik mengapa kita melakukan wisata religi tersebut.

Wisata religi sudah dikenal dan sudah banyak yang merasakan atau melaksanakannya. Beragam biaya yang dibutuhkan untuk menunaikan wisata pembasuh hati itu. Mengunjungi tempat kajian ilmu yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tentunya tak akan merogoh kantong kita terlalu dalam. Akan tetapi apabila kita menginginkan wisata dengan tujuan mendekatkan diri kepada Maha Pencipta tersebut hingga lintas negara, tentu saja harus dengan persiapan budget yang fantastis.

Selain wisata religi ada juga wisata-wisata lainnya. Misalnya, wisata berkarya atau karya wisata yang memadukan berwisata sekaligus menghasilkan karya. Karya wisata juga sudah lumrah dikenal masyarakat terutama masyarakat pendidikan atau komunitas intelektual. Ada satu wisata lagi yang mungkin saja belum setenar wisata-wisata yang sudah terurai di atas. Jenis wisata tersebut yaitu wisata Imaji.

Sebenarnya wisata ini sudah ada yang melaksanakan sedari dulu. Hanya saja, perkembangan peminat wisata jenis ini tidak sedahsyat peminat jenis wisata yang lain. Meskipun demikian, peminat wisata imaji tidak pernah musnah, bahkan jumlahnya bertambah meskipun berjalan sangat lambat.

Apakah 'Wisata Imaji'? Terlebih dahulu kita telusuri makna kata yang membangun. 'Wisata' berarti kegiatan perjalanan atau aktivitas yang dapat menenangkan hati atau pikiran serta menyegarkan otak. "Imaji' atau imajinasi berarti sesuatu yang dibayangkan dan berproses di pikiran. Dengan demikian, Wisata Imaji berarti suatu aktivitas yang menenangkan hati dan menyegarkan otak melalui hal yang dibayangkan berupa kreativitas.

Berdasarkan uraian di atas, penulis artikel saat menulis artikel ini berarti sedang melakukan aktivitas 'Wisata Imaji'. Penulis melakukan pengembaraan pikiran atau menghadirkan hal yang dibayangkan. Hasil dari aktivitas tersebut mewujud menjadi gagasan yang terurai berbentuk paragraf dan kalimat. Gagasan yang berupa hasil pemikiran tersebut dipersiapkan untuk dibagikan kepada orang lain. Perihal berbagi inilah yang akhirnya berimbas kepada rasa menenangkan hati.

Selain itu, apabila hal yang kita pikirkan atau kita bayangkan berupa suatu jawaban dari permasalahan yang meresahkan masyarakat, hal itu merupakan suatu kepuasan tersendiri. Ibarat sebuah lemari, banyak sesuatu tersimpan dalam pikiran dan imajinasi kita. Ungkapkan yang tersimpan itu dalam bahasa tulis, maka saat itu Anda baru saja terlahr sebagai seorang penulis.

Mari kita berwisata imaji. Wisata imaji akan menghasilkan sebongkah gagasan yang akan dibaca dan dicermati oleh kaum literat. Wisata imaji juga akan berkontribusi nyata dalam dunia kepenulisan untuk melahirkan para pejuang literasi. Kaum literat dan pejuang literasi inilah yang akan membawa kemajuan peradaban suatu bangsa.

=======================================================

Sarapan Bersama Mentari Pagi (Tantangan Hari ke-15#Tantangan Gurusiana)

14 Feb @Kolom

Anda mempunyai kebiasaan tidak sarapan pagi? Sangat disayangkan apabila hal itu terjadi, apalagi hingga menjadi sesuatu yang tidak dibarengi dengan rasa bersalah. Mengapa demikian, karena sarapan akan bisa memenuhi sekitar 15 hingga 30 % gizi yang dibutuhkan tubuh untuk hari itu. Jumlah persentase gizi yang sekian persen itu apabila dilewatkan, maka akan membawa tubuh Anda terasa lesu, tidak bergairah, dan sulit berkonsentrasi. Apabila demikian, Anda akan terbiasa menjadi pribadi yang sulit diajak untuk produktif. Jadi, akan lebih bijak apabila kita meninggalkan kebiasaan buruk yaitu 'tidak sarapan'.

Bagi para orang tua, hal ini seharusnya menjadi perhatian yang sangat penting. Coba kita refleksi diri, putra-putri kita yang menuju ke tempat belajar belum diberi sarapan. Anak-anak kita langsung masuk kelas begitu memasuki area sekolah. Jam pelajaran pertama berlangsung. Pembelajaran pertama dan selanjutnya tentu saja membutuhkan energi sebagai bahan bakar untuk mencerna atau terjadinya kegiatan belajar pada diri pembelajar. Apabila energi itu belum tersedia pada diri pembelajar, sulit rasanya otak beroperasi dengan normal. Pikirkan apabila hal itu setiap hari berlangsung, maka kecerdasan otak anak-anak kita akan 'Jauh panggang dari api'.

Betapa dahsyatnya efek nutrisi makanan bagi kecerdasan berpikir anak-anak kita. Ternyata, selain nutrisi, sarapan pagi yang lain juga sama-sama berefek mencerdaskan. Sarapan tersebut yaitu berliterasi bersama sinar mentari pagi. Sambut hangatnya pancaran mentari pagi dengan mengisi dan mengasah alam pikir kita dengan bacaan yang berguna. Awali pagi dengan kebiasaan membaca.

Literasi pagi yang berupa kegiatan awal pembelajaran dengan membaca, akan membentuk pembiasaan yang positif. Pembiasaan positif tersebut berupa 'ketagihan' untuk melakukan hal yang serupa yaitu membaca. Apabila pembiasaan ini telah mengkristal dalam diri, maka bersiap-siaplah untuk menjadi pribadi yang tak miskin pengetahuan. Pribadi yang demikian akan siap menghadapi tantangan zaman yang setiap saat menuju kepada perubahan.

Gambar di atas diambil dari kelas XI Bahasa SMAN 1 Sukaresmi pada hari Jumat, 14 Februari 2020. Mereka mengawali pembelajaran dengan membaca cerita pendek hasil karya guru mereka. Ditemani sorot mentari yang menghangatkan, sarapan literasi pagi begitu menyenangkan.

Mari kita jadikan literasi membaca bersama mentari pagi sebagai habit dalam keseharian. Generasi penerus dengan pembiasaan yang demikian adalah penerus bangsa yang diperlukan keberadaannya. Maka, tidak boleh tidak, membumikan berliterasi membaca di pagi hari menjadi pekerjaan rumah para guru dan para orang tua dalam mengkualitaskan putra-putri bangsa ini. Bangsa yang berkualitas dibangun dari generasi-generasi yang berilmu pengetahuan dan memiliki kebiasaan membaca dalam keseharian.

=======================================================

Di Balik Kesuksesannya Tentu Ada Dirimu (Tantangan Hari Ke-16#Tantangan Gurusiana)

15 Feb @Reportase

Kegiatan kumpul-kumpul para ibu atau para istri hanya untuk bergosip saja. Hasil dari obrolan para wanita hanya menambah deretan dan koleksi aib tetangga? Wanita kalau sudah kumpul pasti yang dibicarakan hanya seputar baju dan make up yang ujungnya akan merogoh dalam-dalam kantong suami. Miris sekali kalau ada yang berpendapat demikian. Sepertinya tiga kalimat pertama tadi layak dikategorikan sebagai hoak belaka.

Ada kekuatan luar biasa yang bersemayam pada diri wanita/para istri. Kekuatan ini akan mampu berkontribusi terhadap ajegnya perjalanan bahtera yang dinahkodai oleh para suami. Gelombang yang kerap menerpa kapal/bahtera siap memporak-porandakan mental dan psikologis para nahkoda. Adalah peredam dan pengobat resah dan gelisah sang nahkoda, seorang istri siap memfungsikan diri.

Perlukah seorang istri menimba ilmu melalui pertemuan dengan sesama pendamping suami? Jawabnya tentu saja perlu. Melalui pertemuanlah, kemampuan lahir batin para istri di-top up. Sebagai tenaga pelaksana dalam rumah tangga, seorang istri dihadapkan kepada perubahan zaman yang menuntutnya harus cerdas dalam bersikap. Para suami yang berkerja tidak lepas dari perubahan, anak-anak yang tumbuh dan berkembang juga mengikuti perkembangan zaman, semua itu mengharuskan kaum Hawa pandai beradaptasi.

Beragam pertemuan atau perhimpunan yang anggotanya para wanita. Salah satu perkumpulan yang anggotanya para wanita (istri dari laki-laki PNS), yaitu Dharma Wanita. Organisasi ini ditetapkan pada tanggal 7 Desember 1999. Tujuan dari didirikannya organisasi ini adalah meningkatkan sumber daya anggota keluarga PNS untuk mencapai kesejahteraan nasional. Memahami tujuan didirikannya Dharma Wanita ini, bisa kita pahami dari lirik Mars Dharma Wanita.

Dharma Wanita Persatuan, biasanya melakukan kegiatan melalui pertemuan para anggotanya pada setiap bulan. Hal itu dilakukan juga oleh Dharma wanita Persatuan Dinas Pendidikan Jawa Barat Wilayah VI, Kabupaten Cianjur. Hari sabtu tanggal 15 Februari 2020, organisasi ini melaksanakan temu anggota yang bertempat di SMAN 1 Pacet Cianjur.

Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, tholabul 'ilmi wajib dimasukkan dalam mata acara. Kali ini, mata acara yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan para anggota itu yaitu tutorial keterampilan quilling paper art. Pada tutorial ini para ibu dilatih untuk membuat keterampilan menggulung kertas menjadi hiasan yang sangat memesona. Tentu saja tujuannya agar para ibu/istri bisa membuat barang keterampilan yang dibutuhkan untuk keluarga atau bisa juga dijadikan keterampilan yang mendatangkan uang.

=======================================================

Menyemai dan Menuai di Negeri Jiran (Tantangan Hari Ke-17#Tantangan Gurusiana)

16 Feb @Reportase

'Menyemai' berarti menebar. Biasanya, menyemai identik dengan 'menebar' benih. Dalam pelaksanaannya, tidak hanya benih yang dapat disemai, tetapi banyak hal bisa disemaikan. Menyemai budi, menyemai perbuatan baik, atau satu lagi, menyemai pengetahuan. Keseluruhan contoh yang dapat disemaikan tersebut merupakan hal yang sangat perlu ditebarkan. Hasil dari penebaran hal-hal tersebut tentu saja akan menghasilkan buah dengan cita rasa sangat manis.

Kata berikutnya yaitu 'menuai'. Kegiatan menuai, pasti kebanyakan orang pernah melakukan. Kata 'menuai' begitu lekat dengan kata 'padi'. Jadi, tidak salah apabila kita memunculkan satuan bahasa 'menuai padi' setelah telinga kita menangkap bunyi kata 'menuai'. Atau barangkali kita juga sering mendengar peribahasa yang di dalamnya terdapat kata 'menuai. Siapa yang menabur angin akan menuai badai. Menuai padi berarti memanen atau memetik hasil berupa padi. Menuai badai (kiasan) berarti menanggung akibat.

Tulisan ini tidak akan membahas pembentukan kata atau makna yang ditimbulkan dari 'menyemai' dan 'menuai', tetapi hendak berbagi pengalaman yang telah dilakukan penulis. Pengalaman penulis berupa menghadiri undangan seminar yang diselenggarakan oleh salah satu Institut Pendidikan di Malaysia. Aktivitas tersebut sebenarnya dilaksanakan beberapa waktu yang lalu. Akan tetapi, hasil dari kunjungan itu begitu mempunyai arti dalam peningkatan kompetensi diri. Dengan demikian, penulis merasa perlu untuk membagikan pengalaman berharga ini.

Beberapa waktu yang lalu, penulis bersama rekan-rekan dari Indonesia diundang untuk mengikuti seminar oleh Institut Pendidikan Guru Kampus Sultan Abdul Halim Malaysia. Sebagian dari kami diundang sebagai peserta dan sebagaian lagi sebagai pemakalah. Asal kami sebagai peserta dan pemakalah, dari berbagai provinsi di Indonesia. Penulis sendiri diundang sebagai pemakalah.

Bagi penulis, menjadi pemakalah yang harus presentasi di negeri bangsa lain, merupakan pengalaman pertama. Tentu saja campur aduk perasaan yang berkecamuk dalam jiwa. Membayangkan harus bagaimana bersikap dan berbahasa dalam presentasi agar audiens memahami apa yang dipresentasikan, adalah beban yang paling berat dirasakan. Belum lagi memprediksikan power point seperti apa yang biasa disampaikan oleh kebanyakan presenter di Malaysia. Direcoki juga dengan bagaimana pemberangkatan, melintasi waktu satu bulan, hampir tak terasa.

Kami yang belum kenal satu sama lain sepakat menjadikan Bandara Soekarno Hatta sebagai meeting point untuk pemberangkatan ke Malaysia. Setelah semuanya siap, kami menuju Singapore terlebih dahulu. Sore hari, rombongan seminar menuju Penang Malaysia. Kami menginap di Penang Malaysia, dengan view pantai yang indah'. Pagi-pagi kami menuju Institut Pendidikan Guru Kampus Sultan Abdul Halim.

Acara seminar didahului dengan pembukaan yang sebenarnya hampir sama dengan seminar pada umumnya di Indonesia. Hal yang asing bagi kami yaitu, kami tidak bisa menyanyikan lagu Kebangsaan Malaysia dan lagu-lagu lainnya. Jadi, kami hanya diam, duduk, berdiri, dan menyimak apa yang bisa dipahami.

Peminat peserta dan pemakalah seminar begitu membludak. Peserta dan pemakalah seminar seluruhnya berprofesi sebagai Cikgu (guru dan dosen). Seminar dijadwalkan menjadi dua hari. Untung saja, peserta dan pemakalah dari Indonesia, semua dijadwalkan pada hari pertama. Kami menuju bilik-bilik yang sudah diatur oleh pihak kampus.

Bilik (Ruangan) itulah tempat kami menyemai (menebar) pengetahuan berupa presentasi karya ilmiah kepada peserta seminar. Dalam ruangan (bilik) itu juga kami menuai (menerima) pengetahuan yang berkaitan dengan belajar mengajar. Pengalaman tak akan terlupakan bisa mendapatkan dan berbagi pengetahuan berkaitan dengan aktivitas profesi kami sebagai guru dari dua negara.

Banyak hal yang kami dapatkan dari kegiatan seminar di negeri Jiran tersebut. Menambah teman satu profesi dan bertukar pengalaman, tentunya salah satu hal tak ternilai yang kami peroleh. Mengenali budaya dan bahasa negeri Jiran, adalah hal berharga lainnya.

=======================================================

Ujung Tombak Negara (Tantangan Hari ke-18#Tantangan Gurusiana)

17 Feb @Opini

Hari ini tanggal yang terasa keramat. Bagaimana tidak, hari Senin ini bertepatan dengan tanggal Kemerdekaan Republik Indonesia. Tanggal 17 tentu saja tanggal yang mempunyai makna tersendiri bagi Bagsa Indonesia. Tanggal 17 kemerdekaan negara kita jatuh pada bulan Agustus, sedangkan hari ini masih bulan Februari. Meskipun demikian, tanggal 17 ini masih memiliki arti tersendiri terutama bagi KORPRI (Korps Pegawai Republik Indonesia).

Korps Pegawai Republik Indonesia membiasakan diri untuk mengenakan seragam identitas KORPRI pada tanggal 17 setiap bulan dan hari besar nasional atau ulang tahun KORPRI itu sendiri. Wadah untuk menghimpun seluruh pegawai Republik Indonesia ini didirikan pada tanggal 29 November Tahun 1971. Usia 49 tahun merupakan usia suatu perhimpunan yang sangat matang untuk berkiprah terlibat menyukseskan tujuan mulia suatu bangsa.

Negara tercinta Indonesia, sudah barang tentu memiliki tujuan. Mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur, adalah tujuan bangsa Indonesia. Dalam mewujudkan tujuan ini, tentu saja pemerintah tidak berjalan sendiri. Seluruh elemen masyarakat bahu-membahu untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut. Tak terkecuali Korps Pegawai Republik Indonesia.

KORPRI tentu saja merupakan bagian esensial yang berada di garda depan dalam mewujudkan tujuan bangsa. Sesuai dengan latar belakang pendidikan dan spesifikasi kepegawaiannya, para pegawai mendedikasikan loyalitasnya kepada negara. Tak berlebihan bila KORPRI merupakan ujung tombak sebuah negara dalam menggapai cita-cita mulia.

Perhimpunan yang menamakan diri Korps Pegawai Republik Indonesia yang spesifikasi kepegawaiannya sebagai guru, mereka mendedikasikan seluruh kompetensinya di sekolah. Jiwa raga para guru melalui kemampuannya dalam belajar mengajar dicurahkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Seluruh cita-cita bangsa untuk memberikan pendidikan yang berkualitas disandarkan pada pundak para pahlawan pembelajaran ini.

Suka duka pegawai yang berlabel guru, di republik ini begitu penuh warna dan cerita. Itikad baik yang kadang-kadang kemasannya terlihat agak tak biasa, bisa jadi permasalahan. Sudah beberapa kasus yang terpapar membawa guru ke ranah hukum dan akhirnya masuk hotel prodeo. Fenomena yang agak menakutkan itu anggap saja hanya merupakan bagian kecil dibanding aktivitas guru dan siswa secara keseluruhan. Dinamika yang mewarnai kiprah guru sebagai anggota KORPRI dalam menunaikan tugas barangkali yang tepat untuk memberi nama peristiwa tersebut.

Meskipun diwarnai peristiwa yang kurang menyenangkan, para guru sebagai bagian KORPRI, tak perlu resah apalagi dihantui ketakutan. Fokus kepada tujuan awal sebagai ujung tombak dalam mencerdaskan bangsa ini, adalah hal yang terbaik dalam menunaikan tugas. Menjunjung tinggi kode etik guru, akan lebih baik lagi untuk para guru melangkah mengantarkan para peserta didik yang merupakan penerus bangsa.

Jayalah Korps Pegawai republik Indonesia. Jayalah para guru Indonesia.

=======================================================

Aku, Kau, dan Dia itu Wujud Keindahan (Tantangan Hari Ke-19#Tantangan Gurusiana)

18 Feb @Kolom

Pernakah kita merasa penat dan terlalu penat? Sepertinya hal itu pernah hinggap kepada siapa pun tanpa pandang bulu atau pilih-pilih siapa yang mau dihinggapi. Apalagi bila kita seorang pekerja atau pegawai yang sudah terjadwalkan dalam keseharian, apa-apa yang harus kita kerjakan. Ditambah lagi dengan target yang harus kita kejar dari aktivitas atau pekerjaan yang kita tunaikan. Beban berat selalu bergelayut dalam benak setiap insan pekerja tersebut.

Apakah harus dibiarkan begitu saja kelelahan dan kepenatan menggerogoti zona kenyamanan? Bukan keputusan bijak kalau kita membuat keputusan untuk membiarkan begitu saja. Tekanan demi tekanan atau keresahan demi keresahan apabila dibiarkan maka akan menggunung. Apabila hal itu terjadi, bersiaplah psikologis Anda mendapat gangguan.

Cara yang harus Anda Lakukan tentunya dengan melumerkan kepenatan yang telah menumpuk tersebut. Banyak cara untuk mencairkan kebekuan akibat aktivitas berpikir dan mobilitas pekerjaan yang terlalu tinggi. Melakukan refressing bersama teman kerja atau keluarga adalah keputusan jitu untuk mengusir jauh-jauh ketaknyamanan itu.

Jangan pernah menyepelekan efek berlibur bersama teman kerja. Kebersamaan itu akan mendatangkan kebahagiaan yang luar biasa bermanfaat. Satu sama lain akan bisa mengungkapkan apa-apa yang selama ini tidak terungkapkan karena terhalang oleh pekerjaan. Mengenali kemauan dan memahami apa yang mendatangkan kesenangan teman, juga sangat mudah kita dapatkan dari kebersamaan. Menyadari bahwa selama ini kita selalu menciptakan ketaknyamanan rekan kerja, bisa kita dapatkan dari acara melepas lelah ini. Mengikis tembok pemisah yang menjauhkan kita dengan rekan kerja, manfaat lainnya yang kita peroleh dari kebersamaan.

Berdasarkan uraian manfaat liburan bersama teman, SMAN 1 Sukaresmi menerapkan kebijakan untuk melaksanakan hal bermanfaat itu. Gambar di atas diambil pada saat warga sekolah yang berhawa sejuk itu berlibur ke Cipanas Garut. Seluruh komponen sekolah mengambil kesempatan bermanfaat tersebut untuk menyegarkan jiwa raga yang sudah kusut masai.

Canda dan tawa memburai. Resah dan gulana menguap ke udara. Mereka menyanyi apa yang bisa dan ingin dinyanyikan. Berjoget melemaskan otot yang kaku-kaku. Berenang di air hangat untuk melancarkankan peredaran darah yang sudah banyak titik sumbatan. Melepas segala yang memampatkan pikiran.

Tak ada lagi jaga image (ja-im). Semua tertawa lepas. "Jangan tertawa keras-keras, itu tidak etis", dibuang jauh-jauh. "Jangan nyanyi lagu daerah, aku tidak suka mendengarnya", juga ditenggelamkan ke dasar laut. Semua orang mengekspresikan cara melepas lelah dan menerapkan saling menghargai satu sama lain.

Hasilnya tentu saja kesegaran untuk siap melanjutkan pekerjaan esok hari dan selanjutnya. Demikian manfaat kebersamaan aku, kau, dan dia dalam kemasan liburan bersama.

=======================================================

Berkebun di Sekolah? Mengapa Tidak (Tantangan Hari Ke-20#Tantangan Gurusiana)

19 Feb @Kolom

"Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam. Menanam jagung di kebun kita". Masih mengingat lagu itu? Sepertinya semua orang masih mengingatnya karena isi lagu itu sangat bersahaja. Lagu itu juga mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa agraris. Mata pencaharian terbesar penduduk Indonesia adalah pertanian.

Mendengar kata pertanian, terpikir oleh kita akan lahan yang luas untuk menanam segala tanaman pertanian. Padi, palawija, sayur-mayur, contoh tanaman yang biasa ditanam di area pertanian dengan lahan tanam yang tidak sempit. Terpikir oleh kita, tidak bisakah menanam tanaman di lahan yang sempit? Jawabannya sangat bisa. Bahkan, tanpa tanah sekalipun, kita bisa berkebun. Kebun kita akan terlihat bersih dan indah serta segar dipandang mata bila ditanam tanpa tanah.

Lalu, bisakah berkebun di sekolah? Merujuk kepada penjelasan di atas, bahwa berkebun itu bisa tanpa tanah dan di lahan sempit, maka jawabannya, bisa. Metode bertanam yang tak mengotori tempat karena tidak menggunakan media tanah, yaitu metode tanam 'Hidroponik'. Berkebun dengan menggunakan media tanam air ini bisa dilakukan di semua rumah bahkan di sekolah.

Berkebun dengan cara hdiroponik telah dilaksanakan di SMAN 1 Sukaresmi Kabupaten Cianjur. Teknik bertanam ini sudah masuk ke dalam materi pembelajaran Kewirausahaan. Melalui kemasan pembelajaran yang membekali para siswa agar memiliki jiwa wira usaha, berkebum secara hidroponik ini dikenalkan kepada seluruh siswa. Kelas X, kelas XI, dan kelas XII, telah dikenalkan oleh para guru Kewirausahaan akan teknik bertanam tanpa tanah ini.

Betanam dengan cara hidroponik ini sebenarnya tidak terlalu asing. Perlu persiapan yang agak berlebih bila dibandingkan dengan bertanam dalam tanah, barangkali faktor yang tidak mendekatkan cara ini kepada masyarakat. Harga bahan-bahan yang diperlukan juga mungkin saja akhirnya menghadirkan keputusan untuk tidak memilih cara ini. Padahal, penyediaan bahan-bahan pada awal tanam yang dinilai agak berlebih itu, bisa digunakan berulang-ulang pada penananam berikutnya. Jadi, biaya tanam atau biaya produksi sebenarnya bisa dikatakan tidak terlalu mahal.

SMAN 1 Sukaresmi memiliki 4 area tanam hidroponik. Tanaman yang dipilih untuk ditanam yaitu tanaman sayur-mayur. Kegiatan awal tanam hingga perawatan tanaman dilakukan oleh para siswa dengan dipantau oleh para guru Kewirausahaan. Setelah usia tanaman mencapai usia panen, para siswa juga yang melakukan pemanenan sayuran tersebut. Hasil panen kemudian dikemas untuk dipasarkan. Pangsa pasar masih dipilih untuk kalangan sendiri. Hal itu mengingat hasil produksi yang masih sedikit dan jadwal pembelajaran siswa yang menghabiskan waktu hingga sore hari.

Bagikan artikel ini:
Dra. Hj. Rita Murniasih, M.M.Pd

- Kepala Sekolah -

Assalamu’alaikum Wr.Wb.                   Puji syukur tak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya Pembangunan Web dapat…

Berlangganan