Matahari Akhirnya Terbit KembaliĀ - Juara 3 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

Matahari Akhirnya Terbit Kembali 

"Mengapa rasanya sulit bagiku untuk bisa seperti mereka?"

Pertanyaan ini terus menghantui pikiranku. Tak pernah absen. Bahkan ketika aku sedang duduk di dalam bis yang sesak oleh penumpang. Aku mulai membayangkan diriku sendiri. Oh! Betapa briliannya apabila aku menjelma menjadi seorang murid yang sangat pintar dan dibutuhkan oleh semua orang.

Sering mendapatkan perhatian khusus yang lebih spesial dari guru-guru,  selalu ditunjuk untuk mengikuti berbagai macam perlombaan atau olimpiade sehingga mengharumkan nama sekolah, serta membuat kedua orang tua bangga. Murid-murid lainnya pun akan menatapku takjub dengan penuh penghargaan. Aku mendesah pelan.

Seandainya aku berada di posisi yang sama layaknya siswa-siswa pandai pada umumnya. Orang-orang mungkin tidak akan mengeroyoki ataupun meremehkanku dengan kalimat-kalimat yang menggores luka di hati. Seperti yang kualami beberapa bulan yang lalu. Tepat pada saat kaki ini hendak melangkah masuk ke ruang kelas. Kedua bola mataku harus dihadapkan dengan dia, si laki-laki tertampan seantero sekolah namun bermulut sadis.

"Apakah ini cuma mimpi? Sungguh keajaiban dunia yang tak bisa dipercaya! Guys, si tukang molor akhirnya insaf dan berevolusi!" teriak Bara saat ia mendapati kedua tanganku membawa setumpuk buku berukuran besar dan tebal. Beberapa pasang mata memerhatikanku. Satu-dua murid mendelik. Kelas malah menjadi sunyi.

"Iya nih, Bar. Aku harus berubah dan mulai serius belajar dari sekarang," kataku memecah keheningan yang mengerikan ini sembari mendatangi tempat belajarku.

"Wow! Memangnya kamu mau belajar apa, Din?" tanya Bara setengah penasaranditambah dengan ekspresi terkejut yang sengaja dibuat-buat.

"Belajar untuk persiapan ujian seleksi masuk perguruan tinggi, Bar. Aku mau masuk Institut Teknologi Bandung, ambil jurusan Teknik Informatika. Aku ingin mewudkan impianku menjadi seorang Programmer handal," jawabku panjang lebar dengan suara yang mantap. Bara mengernyitkan dahi. Sementara itu sebagian murid nampak bersusah payah menahan tawa.

"Kamu pasti bercanda. Buat apa bermimpi besar? Saingannya berat. Memangnya kamu mampu? Hasil tes milikmu kemarin saja sudah cukup memprihatinkan. Duh, bagaimana kamu bisa masuk ke ITB?"

Mulutku terasa kelu dan tenggorokanku tercekat. Seketika darahku mengalir begitu cepat. Kepalaku seakan-akan mendidih dan badanku ini bagaikan tersulut api. Jika saja kesabaran tidak berada di pihakku, ingin rasanya tanganku menarik setiap helai rambut Bara yang tersisir rapi secara kasar di hadapan semua orang. Bila perlu, akan kuhajar dia sampai mampus menggunakan beberapa teknik bela diriku. Akan tetapi hatiku berkata lain. Alhasil, diam seribu bahasa menjadi obat terbaikku untuk menghadapi situasi menyebalkan seperti ini.

"Neng, tolong nyalakan AC-nya." 

Seorang bapak-bapak beraksen Sunda membuyarkan seluruh lamunanku. Aku mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata. Ibarat iseng membuka lemari pendingin, kuresapi hamparan kenikmatan berupa udara sejuk yang menerpa wajah berminyakku sembari bersandar. Kuusap peluh yang sedari tadi membasahi hidung dan dahi. Matahari semakin meninggi di atas sana.

Dan di sinilah aku. Kembali termenung menghadapi sebuah realita pahit seraya mengamati gedung-gedung yang menjulang tinggi di luar sana. Impian yang telah kurajut selama berminggu-minggu perlahan-lahanterkubur bersama musnahnya harapan-harapan. Api semangatku enggan berkobar lagi.

"Ayolah! Jangan cengeng! Kau harus kuat" bisikku membesarkan hati yang dilanda pilu.

Tiitt!! Tiit!!

Badanku tersentak. Nafasku tersengal- sengal. Tak sedikit penghuni bis yang mengumpat ataupun berdo'a sampai bertanya- tanya perihal berhentinya bis yang mereka tumpangi secara mengejutkan. Seseorang masuk ke dalam bis. Kudengar langkah kakinya sedikit tergesa-gesa.

"Maafkan saya Bu, Pak sebab saya mengganggu perjalanan Bapak dan Ibu." Suara itu sungguh tidak asin bagiku. Kakiku segera berdiri lantas mataku terbelalak.

"Fitri, apa yang kamu lakukan di sini!"

"Ketemu kau Dinar!" Sahabatku yang bernama Fitri langsung menarik lenganku dan menyuruhku supaya perjalanan pulang kampung ini dibatalkan.

"Aku perlu bicara denganmu, Din." 

Dengan terpaksa, aku turun dari bis demi menghetikan bisingnya bunyi-bunyi klakson yang saling bersahut-sahutan. Sang supir bis bersungut-sungut memarahi Fitri atas tindakannya yang mengundang maut, mengejar dan mengomando sang supir bis agar berhenti sambil mengendarai sepeda motor.

"Tanggal pulang kampung kan masih lama, mengapa kamu ingin pulang sekarang?"

Hati-hati kujelaskan alasan kepergianku meninggalkan kota rantau ini pada sahabat karibku. Tiga hari yang lalu sebelum keberangkatan, aku meminta izin kepada pihak sekolah agar aku bisa mengambil ijazahku lebih cepat tanpa perlu menghadiri acara kelulusan. Sudah lima hari ibuku jatuh sakit dan aku tidak mau membiarkan beliau terbaring di rumah sendirian tanpa kehadiran anak semata wayangnya. Aku harus merawatnya dan menemaninya.

"Dinar, dengarkan aku. Kau tak perlu risau. Ibumu sudah dibawa ke rumah sakit kota di sekitar sini. Ibuku bilang bahwa kondisi ibumu berangsur pulih. Tenang, jangan kau khawatirkan soal biaya. Dan yang terpenting ialah kau berhasil melakukannya."

Suasana hatiku kini kian bercampur aduk jadi satu. Antara senang, sedih, takut, marah dan juga bingung. Tapi, apa yang berhasil? Mataku menatap penuh rasa ingin tahu tatkala Fitri mengeluarkan selembar HVS putih dan menyerahkannya padaku.

"Apa ini?"

"Apakah kau sudah lupa?! Bacalah dan lihat!"

Jantungku berdegup lebih kencang dan lututku agak bergetar. Kuatur nafas senormal mungkin. Tuhan bermurah hati padaku. Begitu namaku terpampang di kertas pengumuman yang menyatakan bahwa aku diterima di ITB, sontak aku melompat dan memeluk Fitri.

"Begitu kertas pengumuman hasil seleksi masuk PTN itu keluar. Aku langsung menelepon dan mengirimu SMS beberapa kali. Tak ada respon. Namun, saat pamanmu memberitahuku kau akan pulang, tak tanggung-tanggung kukebut motor sekencang mungkin untuk mengejarmu. Syukurlah kau kutemukan," jelasnya dengan tatapan yang berbinar-binar.

Aku terlalu terbawa arus kesedihan sampai-sampai melupakan satu hal yang seharusnya kunanti-nanti. Pengumuman hasil SBMPTN. Fitri bercerita tentang kebahagiannya masuk Universitas Indonesia jurusan Sastra Inggris lalu bertanya polos, "Kau tahu hari ini hari apa?"

"Hari Minggu." Ia menepuk jidatnya yang lebar.

"Kau sudah lupa lagi ya, Din? Hari ini adalah hari ulang tahunmu. Baiklah kita tak boleh menghabiskan waktu di atas trotoar. Yuk kita jenguk ibumu! Beliau pasti senang." Sesaat tubuhku laksana burung yang terbang bebas menembus angkasa. Matahari akhirnya terbit kembali.

 

 

Biodata Penulis

Nama Lengkap            : Kamal Suwargi

E-Mail :wittyhafetranszbat26@gmail.com

Nomor HP                   087889641888

Nomor Whatsapp         081912298803

Alamat Intagram         :@alpha_kamssu

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
SKENARIO YANG PORAK-PORANDA - Juara 2 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

  Senja dan temaram, sedang bertemu melepas rindu yang sempat terhalang oleh terbitnya mentari. Lembayung menyelinap masuk diantara sela-sela kaca bangunan yang bertingkat itu. Mem

01/01/2020 19:57 WIB - Admin Web
Gerbang Masa Depan - Juara 1 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

"Wah, kamu dapat nilai tinggi lagi." Hanya melayangkan senyum tipis sebagai tanggapan, Lili tidak menjawab secara lisan. Tertulis angka sembilan puluh enam di sudut kanan atas kertas uj

01/01/2020 19:51 WIB - Admin Web
Carpon Basa Sunda

Angkat Sakola Rifa Hendriani XI IPS 2 Hawa isuk anu tiis maturan léngkah gurung gusuh Siti ka Sakola. Di jalan, anjeunna ningali réa réréncanganna angkat ka

25/10/2019 14:00 WIB - Admin Web