SKENARIO YANG PORAK-PORANDA - Juara 2 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

 

Senja dan temaram, sedang bertemu melepas rindu yang sempat terhalang oleh terbitnya mentari. Lembayung menyelinap masuk diantara sela-sela kaca bangunan yang bertingkat itu. Membuat paras putih yang dimiliki seorang lelaki yang terbaring diatas berankar terlihat kecokelatan terbelai oleh sinarnya.

Terlihat seorang wanita paruh baya juga ikut duduk disisi berankar. Ia terlihat menunduk, entah tertidur, atau entah menyembunyikan air matanya yang terus mengalir. Di waktu yang bersamaan, terlihat seorang perawat putih nan cantik memutar knop pintu. Ia berdiri diambang pintu, dengan terpaksa ia mendekat dan mengganggu tangisan khusyuk seorang wanita paruh baya itu.

"Maaf bu, ibu orang tua pasien?" Ujar perawat itu dengan menepuk perlahan pundak wanita itu.

“Ah iya, ada apa sus..?” Jawab wanita itu sambil mengusap kasar air matanya. “Pak Jonathan menunggu ibu di ruangannya.”

Dengan langkah gontai, wanita yang menyandang gelar sebagai ibu dari pasien itu mengayunkan langkah menuju ruangan pak Jonathan yang tak lain adalah dokter yang merawat putranya.

Tok…tok…suara pintu diketuk perlahan.

 

“Silahkan masuk!” Jawab seseorang didalam sana.

 

Pak Jonathan mempersilahkan duduk kepada bu Agni yang tak lain adalah ibu dari pasien.

“Dok bagaimana keadaan putra saya? Apakah masih bisa disembuhkan?” Ujar ibu Agni bersamaan dengan air bening yang mengalir dari matanya begitu saja.

“Tenang saja, bu. Putra ibu adalah anak yang kuat. Fisik dia memang lemah, tapi tekad dia untuk bisa sembuh lebih kuat. Tingkat kesembuhannya lumayan tinggi setelah melakukan detoksifikasi. Sekarang kita hanya bisa menunggu saja kapan dia akan siuman.” Pak Jonathan menjawab dan menyerahkan surat-surat yang berhubungan dengan penyembuhan putranya itu.

 

Sudah delapan hari dari proses detoksifikasi, lelaki itu memang belum siuman dari tidur panjangnya. Perlahan bu Agni melangkah menyusuri lorong rumah sakit.

Memutar knop pintu dan mendorongnya perlahan, ia kembali duduk disisi brankar.

 

Tuhan dan semesta seperti berkompromi, mereka memberikan hal tak terduga. Lelaki yang terbaring diatas brankar menggerakkan jari telunjuknya perlahan. Membuat bu Agni sontak memanggil dokter. Dokter memeriksa dengan telaten. Hingga benar, alam raya memberikan kejutan diluar nalar, lelaki itu perlahan membuka matanya seakan memberitakan bahwa dirinya telah siuman.

Mata kecokelatan dan alis yang lumayan tebal melengkapi tatapannya yang penuh arti. Lelaki itu mengedarkan pandangannya, hingga berhenti pada satu orang wanita yang sangat ia cintai. Siapa lagi jika bukan bu Agni yang tak lain adalah ibunya. Air matanya menyeruak begitu saja, bersamaan dengan pemikiran yang mulai berjalan mengingat kejadian beberapa minggu lalu.

***

Bulan pamit undur diri dari cakrawala. Mempersilahkan mentari untuk menggantikan posisinya. Seorang lelaki dengan rahang tegas dan kulit putih berjalan mendekati jendela kamarnya. Ia membuka jendela dengan tujuan agar sinar mentari dapat masuk kedalam kamarnya. Namun nihil, tak ada sinar mentari. Yang ada hanyalah awan mendung, dengan beberapa burung hilir-mudik dibawahnya sebagai pelengkap.

Auzan Antasena, nama yang disematkan oleh orang tuanya delapan belas tahun yang lalu. Ia adalah anak tunggal dari pasangan pak Prasetyo dan ibu Agni. Kini ia duduk dikelas tiga SMA. Ia tumbuh dengan hidung mancung, badan tegap, kulit putih dan bersih. Ditambah senyum yang mampu membuat para wanita gelagapan ketika melihat deretan gigi yang rapi, terlihat manis.

Pandangan yang sedari tadi ia edarkan ke langit. Kini beralih menuju benda pipih panjang berwarna hitam. Benda itu berdering dan nama 'Arga' tertera diatas layar.

"Halo bro dimana, elah cepetan! Orangnya keburu pulang ntar.” Ujar Arga yang tak lain adalah temannya.

 

Tanpa menjawab Auzan pun langsung menutup telepon dan berangkat setelah berpamitan kepada orang tua nya. Ia mengendarai motor honda CBR 250RR miliknya. Dengan kaos putih dan celana jeans hitam panjang, dibalut dengan jaket kulit senada. Auzan melaju menuju tempat yang direncanakan.

Tampan dan memiliki faktor ekonomi yang lebih dari cukup bukan berarti ia pantas untuk diidamkan. Auzan adalah lelaki bad boy, disekolahnya sering absen, bahkan beribadah pun hanya dirumah saja berhubung ada orang tuanya. Faktor ekonomi yang lebih adalah salah satu alasan ia mengenal pergaulan bebas. Dengan paras yang tampan, tidak ada yang percaya bahwa ia adalah pecandu narkoba. Arga juga termasuk pecandu, bahkan ia mencandu lebih dulu dari pada Auzan. Ketika dunia mulai mengkhianati mereka, narkoba dan jenis obat-obatan terlarang yang mereka pilih untuk menenangkan.

Sebungkus kecil narkoba jenis sabu-sabu sebanyak dua gram, dilapisi amplop berwarna coklat telah pindah tangan pada mereka, dan uang sebesar 3,6 juta telah berpindah tangan pada seorang lelaki yang terlihat lebih tua dari mereka.

Malam bergerak menyelimuti bumi pertiwi. Tidak seperti hari-hari biasanya, kini Auzan meminta Arga untuk mengendarai motornya ke markas yang biasa mereka pakai untuk mencicipi barang haram itu.

Entah apa yang direncanakan Tuhan, ditengah perjalanan penglihatan Arga menjadi buram. Efek ini ditimbulkan karena keterlambatan mengonsumsi narkoba. Hingga terakhir kali yang ia lihat adalah cahaya yang mendekatinya dan… BRUUUKK

… suara yang ditimbulkan dari truk dan motor CBR itu cukup keras. Auzan yang terlihat panik berusaha untuk melompat kebahu jalan. Namun, berbeda dengan Arga yang terlihat pasrah membiarkan dirinya bersentuhan dengan truk.

Darah yang mengalir dari kepala Arga mampu membekukan aliran darah Auzan. Pandangannya kosong melihat temannya terbujur kaku tak bernyawa. Impian yang terlintas dalam ruang pikirnya adalah, ia ingin menjauhkan narkoba dari dirinya.

***

 

“Alhamdulillah. Kamu sudah siuman nak?" bu Agni terlihat menyambut Auzan dengan rasa bersyukur.

 

Auzan hanya mampu mengedipkan mata perlahan dan menarik lengkungan kecil dibibirnya. Semenjak kejadian yang merenggut nyawa temannya itu, Auzan berharap untuk bisa berhenti mencandu pada narkoba. Pertama kali orang tuanya tahu, pak Prasetyo yang tak lain adalah ayahnya mendaratkan tangannya di pipi Auzan dengan kasar. Harapan pak Prasetyo yang ingin Auzan meneruskan perusahaannya di San Fransisco hancur. Namun bu Agni mampu melerai amarahnya, sebab kenyataan tak ada yang bisa mengubahnya. Bu Agni menemani proses pengobatan Auzan dari pemeriksaan sampai detoksifikasi. Sedangkan pak Prasetyo, ia pergi ke San Fransisco untuk mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.

"Benarkan, bu? Sebagian besar pasien pecandu narkoba setelah melakukan detoksifikasi mereka akan siuman setelah sepuluh hari bahkan ada yang sampai dua minggu. Namun, berbeda dengan Auzan. Keinginan yang kuat untuk bisa bersih dari narkoba membuat dia lebih cepat siuman pada hari ke delapan." Ujar pak Jonathan.

Hari bergerak menjadi minggu, dan minggu berkumpul menjadi bulan. Kini Auzan sudah kembali kerumah orang tuanya. Auzan kembali melakukan aktivitasnya. Pergi sekolah dan mengejar materi pelajaran yang tertinggal selama sebulan. Tak ada yang tahu selama ini Auzan melakukan pembersihan dari narkoba, mereka hanya tahu bahwa Auzan menenangkan diri ke luar negeri karena kematian Arga yang membuatnya merasa terpukul.

Impian dia berbeda dengan yang lain, yaitu memiliki raga yang bersih dari narkoba. Tak banyak orang yang memiliki impian seperti Auzan. Auzan adalah anak yang cerdas, dia dengan mudah bisa masuk SNMPTN. Auzan di terima disalah satu universitas ternama. Bulan berganti menjadi tahun. Gelar sarjana pun sudah ia sematkan dibelakang namanya.

Harapan orang tua yang sempat terhalang oleh episode pahit kehidupan yang datang pada dirinya, membuat dia mampu bermimpi seperti kebanyakan orang. Kini ia ingin menjadi orang sukses dan dapat membuat bangga orang tuanya. Hubungan dengan ayahnya semakin membaik ketika Auzan masuk universitas. Bisa saja ia langsung meminta kepercayaan untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Namun, bukan Auzan jika seperti itu. Kecerdasannya mampu menuntun langkahnya pada puncak keberhasilan. Dengan mati-matian dia mendirikan perusahaan yang tak jauh

 

dari perusahaan ayahnya, membuat ayah dan ibunya tersenyum dengan bangga.

 

Perlahan ia menyatukan partikel-partikel yang dulu hilang dalam dirinya. Sebuah kenyataan yang pahit, yang entah mulai dari kapan bersemayam dalam dirinya. Sebuah tekad dan keberhasilan membuat ia kembali pulang, pulang pada jalur kehidupan yang semestinya.

Alam raya terlihat merayakan euphoria atas kembalinya Auzan pada garis hidup yang sistematis. Membuat dia tak berstagnasi lagi pada ruang kelam. Malam ini cahaya bulan tak kalah terang dengan lampu jalan. Bintang-bintang menggantungkan dirinya di langit. Angin pun tak tinggal diam, ia berhembus pelan menggandeng dedaunan untuk ikut terbang bersamanya.

"Malam memang waktu ternyaman untuk mengoreksi segala kesalahan dalam hidup kita. Benarkan?" Ujar pak Prasetyo mendekati Auzan yang tengah menghirup udara malam dibangku taman sambil membawa dua gelas kopi yang masih mengepul.

"Iya pah. Rasanya ingin sekali menghapus ingatan dulu, dimana malam yang tenang dilewati dengan cara yang salah." jawan Auzan sambil menerima segelas kopi.

"Sudahlah, beberapa kejadian dimasa lalu jangan terlalu dipaksa untuk dihapus. Beberapa kejadian sebaiknya dibiarkan permanen agar kita tetap bisa berkaca untuk merangkai serpihan hidup yang lebih baik kedepannya."

Kopi yang mengepul dibawah bulan, seakan menjadi saksi bahwa mereka begitu dekat. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Bermimpi dan berharap bisa diperankan oleh siapa saja. Bahkan seorang pecandu narkoba pun pantas untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Alam semesta bekerja dengan halus, ia mendekatkan impian dengan orang-orang yang bermimpi dan berusaha meraihnya. Dan dia akan menjauhkan impian dengan orang- orang yang hanya bermimpi lalu rebahan dengan alasan meluruskan pinggang.

Kehidupan tetap seperti itu, hanya saja manusia yang terkadang membuatnya menjadi rumit.

 

Nama Lengkap : Tantri

E-mail : tantri09septiani@gmail.com Nomor HP : 081324112304

Nomor WhatsApp : 085624123696 Alamat Instagram : @tantriiiiii_

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Matahari Akhirnya Terbit Kembali - Juara 3 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

Matahari Akhirnya Terbit Kembali  "Mengapa rasanya sulit bagiku untuk bisa seperti mereka?" Pertanyaan ini terus menghantui pikiranku. Tak pernah absen. Bahkan ketika aku sedang du

01/01/2020 20:02 WIB - Admin Web
Gerbang Masa Depan - Juara 1 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

"Wah, kamu dapat nilai tinggi lagi." Hanya melayangkan senyum tipis sebagai tanggapan, Lili tidak menjawab secara lisan. Tertulis angka sembilan puluh enam di sudut kanan atas kertas uj

01/01/2020 19:51 WIB - Admin Web
Carpon Basa Sunda

Angkat Sakola Rifa Hendriani XI IPS 2 Hawa isuk anu tiis maturan léngkah gurung gusuh Siti ka Sakola. Di jalan, anjeunna ningali réa réréncanganna angkat ka

25/10/2019 14:00 WIB - Admin Web