Gerbang Masa Depan - Juara 1 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

"Wah, kamu dapat nilai tinggi lagi."

Hanya melayangkan senyum tipis sebagai tanggapan, Lili tidak menjawab secara lisan. Tertulis angka sembilan puluh enam di sudut kanan atas kertas ujian merupakan suatu kebanggan besar bagi siapapun yang mendapatkannya. Tatapan Lili tidak berpaling dari angka di sana. Semakin lama menatap, semakin gelap wajahnya.

"Seandainya aku bisa sepertimu yang bisa mendapat nilai tinggi di setiap mata
pelajaran, itu pasti akan hebat sekali."

Lili mengalihkan pandangan ke arah teman sebangkunya yang sedari tadi berkicau
mengenai nilai tinggi juga Lili dan kepintarannya, sedangkan ia sendiri masih bungkam.

"Ibumu pasti bangga telah melahirkanmu yang memiliki kepintaran tiada banding.
Uh, aku iri sekali padamu."

Bibir Yana mengerucut. Membandingkan nilai Lili dengan nilainya membuat hatinya teriris pedih. Namun, tidak ada dengki sebab ia sudah terbiasa. Ia selalu bersikap tak acuh. Paling-paling mendapat nilai pas di nilai rata-rara kendati telah melaksanakan remedial. Ia menghela napas.

"Tapi, aku tidak peduli. Lagi pula, aku punya tujuanku sendiri." Tangannya mengepal.

"Nilai kecil tidak akan menghalangiku untuk menjadi seorang polwan!"

Kilau optimis berpendar di mata Yana membuat Lili bergeming. Ditambah sinar hangat mentari yang datang dari balik kaca jendela menerangi wajahnya, Yana tampak seperti pendekar kuat yang siap pergi bertempur. Hal ini tidak menimbulkan kekaguman dari dalam diri Lili, tidak pula merasa geli, malah ia merasakan iri merayapi sanubari.


Kapan ia akan mengalami euforia yang sama seperti yang kini Yana rasakan?


Pertanyaan tersebut mulai menggerogoti otaknya untuk mencari jawaban. Mengetahui bahwa ia bahkan tidak mengetahui masa depannya sendiri, bibirnya tertutup rapat. Mustahil euphoria itu terjadi ketika ia tidak tahu tujuan ia selama ini mencari ilmu. Lili mengutuk kebodohannya.
Seumpama noda pada pakaian, Lili merasa adanya ketidakkonsistenan antara nilai dan fungsi nilai itu tersendiri. Nilai tinggi tanpa harapan yang disertai hanya membawa kesiasiaan diri. Lili tak ubahnya burung yang terkurung dalam sangkar emas.

Banyak orang menyanjungnya, pujian tidak pernah berhenti mengalir, tetapi Lili terjebak di tengah kekalutan menentukan tujuan. Ia berharap menjadi Yana yang tidak ragu menunjukkan eksistensinya kepada dunia. Bermodalkan kepercayaan diri yang kuat disertai usaha mampu membawa dunia ke dalam genggaman. Yana tidak unggul perihal akademis, namun fisik yang kuat mendorong citacitanya. Namun, Lili dan Yana adalah dua sosok berbeda. Perutnya tergelitik begitu ia menyadari bahwa di saat orang ingin menjadi Lili maka saat itu pula ia membenci diri.

"Apa yang lucu?"

Yana berpikir Lili menertawakannya. Sudut bibirnya tertarik ke bawah.

"Tidak ada."

"Bohong. Kau pasti tertawa melihat kebodohanku."

Mata Lili memandangnya geli. "Bagaimana kau bisa tahu kalau aku menertawakan kebodohanmu?"

Rahang bawah Yana terbuka, bersiap melontarkan argumen, tetapi tak jadi lantaran menginsafi bahwa ia melempar hipotesis spontan semata. Ia tidak bisa membaca pikiran orang lain. Sebagai sosok yang keras kepala, Yana tentu tidak mau mengalah. Ia mendengus lalu memalingkan muka.

Lili tidak berkomentar. Senyum kecil terpatri, sudah mengetahui bahwa Yana memang
seperti ini. "Ayo pulang."

Bersama-sama mereka meninggalkan kelas yang telah kosong sejak beberapa menit selepas bel berbunyi. Angin dingin menerpa muka. Lili menengadah. Kapas-kapas kelabu gelap menggulung cakrawala pertanda hujan akan segera turun.

"Sepertinya akan ada hujan besar," Yana merespon cepat.

Lili mengangguk setuju. Dalam diam, matanya memperhatikan kelas-kelas yang berderet di samping. Langkahnya terhenti di hadapan sebuah papan besar majalah dinding.

Yana yang berjalan di sisinya spontan berhenti lalu bertanya. "Kenapa berhenti?"

"Oh," tanggapnya setelah tahu fokus utama Lili. "Mau ikut?"

Sebuah poster ditempel di sana. Dilihat dari isinya, poster tersebut memberitahukan kepada halayak bahwa akan ada kegiatan motivasi yang diselenggarakan alumni. Pemuda yang ditampilkan di poster tampak mencirikan tipe orang santai dengan setelan kasualnya, tetapi senyum yang terukir membubuhkan aura percaya diri.

Lili tidak pernah mendengarkan motivasi yang keluar dari mulut orang lain kendati seorang motivator terkenal sekalipun. Karena kehidupan setiap orang berbeda, ia percaya bahwa motivasi terbaik tumbuh dari diri sendiri.

Lili menggelengkan kepala dengan raut muka datar. "Aku sempat tertarik saja."

***


Turun dari angkutan umum, Lili tidak menyangka hujan deras datang dengan sangat cepat. Ia berlari menerobos jutaan air dari langit lalu berteduh di bawah atap sebuah minimarket. Tangannya menepuk-nepuk pundak dan lengan atas yang basah.

Ada lima orang yang berada di tempat yang sama dengannya. Sepasang kekasih, pria paruh baya, dan dua orang yang memakai seragam sekolah yang terdiri atas seorang gadis yang sibuk bermain ponsel dan seorang pemuda yang kini bersitatap dengan Lili.

"Kau."

Karena perbedaan ketinggian yang signifikan, Lili perlu mendongak untuk melihatnya.

Kilat terkejut melintas. "Mika?"


Rambut hitam gondrong selalu menjadi ciri khasnya. Lili penasaran apakah di sekolah barunya Mika tetap terkena omelan guru sama seperti dulu.

"Kau tidak berubah." Mika mendengus.

Keduanya membisu di tengah suara hujan. Lili menatap lalu lintas yang berkurang kepadatannya karena cuaca buruk. Kerutan di dahinya menandakan kecemasan. Waktu berjalan semakin petang. Ponselnya mati sehingga tidak dapat dipakai untuk memberi kabar kepada pamannya.

Ia menghela napas. "Kudengar kau mendapat nilai ujian tertinggi di sekolahmu."

Bola mata Lili bergulir ke kanan sekilas sebelum kembali menyaksikan hujan. Bibirnya terkatup. Kentara sekali sinisme dari nada bicaranya menyulut perkelahian, sayangnya tidak mempan terhadap Lili.

Mika sendiri tak acuh dengan reaksi Lili. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai.

"Tampaknya kau tidak bangga dengan pencapaianmu. Kenapa? Mulai bosankah?"
Lili tidak tertarik menanggapinya.


"Kau tidak pernah berubah. Dingin seperti cuaca saat ini." Mika menggosok kedua
telapak tangannya, menciptakan hangat walau sedikit. "Tapi, ada yang mulai berubah
darimu."

 

Kelopak mata Lili menurun mendengar kalimat selanjutnya. "Cahaya di matamu meredup."

------


Banyak orang berkata bahwa pada masa sekolah menengah atas, seseorang bisa mencari jati diri sesungguhnya. Setiap langkah yang kau ambil membawamu menuju gerbang masa depan. Namun, sekeras apapun langkahmu, jika kau tidak tahu kunci mana yang harus kau pilih maka kau tidak akan pernah bisa membuka gerbang.

Lili memandang gerbang besar di hadapan yang tampak begitu kokoh dan kuat lalu menolehkan muka ke meja di samping. Berbagai kunci berjajar dengan warna, ukuran, dan motif yang sama. Alisnya tertekuk memikirkan cara memilih kunci yang benar.

Apabila semua yang dilihat tampak sama, bukankah semua kunci ini tentunya dapat membuka gerbang? Kendati semua sama, Lili meyakini betul adanya perbedaan. Namun, apa bedanya?


Memejamkan mata, sel saraf di otak bekerja aktif mencari petunjuk. Kehidupan nyatanya diisi kerja keras membuahkan hasil yang maksimal. Hasil yang diterima berupa gerbang besar di hadapan, yang harus ia temukan kuncinya. Hanya ada satu gerbang, artinya Lili harus memilih satu di antara banyak kunci yang tersaji.

Bekerja keras dengan belajar, mendapat nilai memuaskan, kemudian orang tua bangga melihat prestasinya yang gemilang. Membuka mata perlahan, tangannya menyentuh dada tatkala desir hangat terasa di sana. Senyum tipis terukir di bibirnya. Tidak apa bila Lili belum menemukan masa depannya, tetapi impian sesungguhnya ia sudah tahu.

Entah sejak kapan jumlah kunci berkurang, Lili mengambil satu-satunya kunci yang berada di atas meja. Langkahnya mantap mendekati gerbang. Memasukkan lubang kunci dan memutarnya, kemudian ia dorong pintu gerbang. Cahaya lembut memasuki indra penglihatan.


"Lili, kau pulang terlambat." Tangan Lili memegang kenop pintu rumah.

Belum beranjak dari ambang pintu, ia saling melempar pandangan dengan ayahnya yang cemberut.

"Abaikan saja ayahmu itu, Lili. Masuklah." Menutup pintu,

Lili mengayunkan kaki membawa tubuh masuk. "Kapan Ayah dan Ibu pulang?"

"Satu jam yang lalu." Sosok sang paman muncul dari lantai atas.

Sang ibu mendekat, menggiring Lili untuk duduk bersamanya di sofa. "Bagaimana sekolahmu?"

"Baik. Aku mendapat nilai tinggi di setiap ujian." Setelah menyerahkan bukti berupa kertas ujian, ayah, ibu, dan paman Lili menyaksikan satu persatu nilai yang tertera.

Melihat nilai di kertas ujian yang berada di atas, berutan sampai ke kertas ujian di berada di bawah, kilau bangga tak hentinya terpancar dari mata mereka. Tinggal sehari-hari bersama sang paman, jarang Lili menemukan kedua orang tuanya berada di rumah, biasanya sebulan sekali.

Berhubung mereka sedang di sini, Lili tidak mau melepaskan kesempatan untuk memamerkan hasil kerja kerasnya.

"Kau belajar dengan baik." Sang ayah menepuk pelan kepala Lili dan mengelus rambutnya sarat akan afeksi.

"Ya, Ayah."

Lili tersenyum lebar. Ia berharap peristiwa ini tidak akan lepas dari kehidupannya.

 

Biodata Penulis
Nama lengkap: Nurul Azmi
E-mail: amimiaci@gmail.com
Nomor HP: 083107055565
Nomor WA: 083107055565

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Matahari Akhirnya Terbit KembaliĀ - Juara 3 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

Matahari Akhirnya Terbit Kembali  "Mengapa rasanya sulit bagiku untuk bisa seperti mereka?" Pertanyaan ini terus menghantui pikiranku. Tak pernah absen. Bahkan ketika aku sedang du

01/01/2020 20:02 WIB - Admin Web
SKENARIO YANG PORAK-PORANDA - Juara 2 Lomba Menulis FIKSI SMAN 1 Sukaresmi Tahun 2019

  Senja dan temaram, sedang bertemu melepas rindu yang sempat terhalang oleh terbitnya mentari. Lembayung menyelinap masuk diantara sela-sela kaca bangunan yang bertingkat itu. Mem

01/01/2020 19:57 WIB - Admin Web
Carpon Basa Sunda

Angkat Sakola Rifa Hendriani XI IPS 2 Hawa isuk anu tiis maturan léngkah gurung gusuh Siti ka Sakola. Di jalan, anjeunna ningali réa réréncanganna angkat ka

25/10/2019 14:00 WIB - Admin Web